Sabtu, 22 September 2018
Jumat, 16 Desember 2016
ARIS RIYADI PEROLEH 35 PENGHARGAAN GURU NASIONAL DAN INTERNASIONAL
ARIS RIYADI PEROLEH 35 PENGHARGAAN GURU TK NASIONAL/INTERNASIONAL
Biodata lengkapnya sebagai berikut:Nama: ARIS RIYADI, S.Pd., M.Pd.
Alamat Rumah: Jl.KH.Ahmad.Dahlan Gg.3 RT.03 RW.01,Kel.Margomulyo,Kec.Ngawi,Kab.Ngawi,Jatim. HP.081217745906
Lulus S1 : UNS FKIP Jur: P.IPS Prodi: Pend.Sejarah 2 -8-1996.
Lulus S2 : UNISMA Malang Tahun 2007
Aktif Menulis di beberapa Media: Jurnal, Majalah, Koran, Buku.
Perstasi : Hingga akhir tahun 2016 ini, telah meraih 35 PENGHARGAAN GURU baik di tingkat NASIONAL/INTERNASIONAL. Antara Lain:
1.PENGHARGAAN SATYA LANCANA PENDIDIKAN DARI BAPAK PRESIDEN JOKOWI
2.JUARA 1 KEPALA SEKOLAH BERPRESTASI 2016.
3. JUARA 1 TINGKAT NASIONAL GURU BERANI MENGINSPIRASI ERLANGGA 2015.
4. JUARA III TINGKAT NASIONAL LOMBA INOVASI PEMBELAJARAN (INOBEL)
2016.
5. FINALIS SIMPOSIUM GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN TAHUN 2016
6. JUARA I TINGKAT NASIONAL (LKG) LOMBA KEATIFITAS GURU TAHUN 2015
7. JUARA II NATIONAL TEACHERS
COMPETITION (NTC) KOMPETISI GURU TINGKAT
NASIONAL 2015
8. THE BEST TEN INOVATOR TERBAIK (INOBEL) INOVASI PEMBELAJARAN 2014
9. JUARA III TINGKAT NASIONAL (LKIG) LOMBA KREATIFITAS ILMIAH GURU
2013
10. JUARA II TINGKAT NASIONAL LOMBA KARYA TULIS UNIVERS NEG.YOGYA
2013
11. JUARA 1 LOMBA FORUM ILMIAH GURU KABUPATEN NGAWI TAHUN 2011
12. JUARA 1 TK NAS (LKIMB)LOMBA KREASI & INOVASI MEDIA PEMBEL.
TH 2011
13. JUARA 1 LOMBA FORUM ILMIAH GURU KABUPATEN NGAWI TAHUN 2011
14. JUARA 1 GURU BERPRESTASI KABUPATEN NGAWI TAHUN 2010
15. JUARA 1 TK NAS (LKG) LOMBA KEBERHASILAN GURU DLM PEMBEL TH 2011
16. JUARA III TK NAS (LKIMB) LOMBA KREASI & INOVASI MEDIA
PEMBELJ TH 2010
17. JUARAIII TK REGIONAL (LKTI) LOMBA KARYA TULIS ILMIAH TAHUN 2009
18. JUARA 1 TK NAS (LKIG) LOMBA KREATIFITAS ILMIAH GURU LIPI TH 2009
19. JUARA II PENULISAN DESKRIPSI KOLEKSI MUSEUM NEGERI MPU TANTULAR
SURABAYA TAHUN 2008
20. JUARA 1 SE-JAWA LGK/LOMBA GURU KREATIF TAHUN 2008
21. JUARA II GURU BERPRESTASI KABUPATEN NGAWI TAHUN 2006
22. FINALIS (LKG) LOMBA
KEBERHASILAN GURU DLM PEMBELAJARAN TH 2006.
23. NOMINASI 10 TERBAIK Tk PROV.JATIM LOMBA DONGENG SEJARAH 2006
24. PENGHARGAAN MENTERI PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA
TENTANG PENULIS ARTIKEL KEPEMUDAAN DIMEDIA TULIS TAHUN 2008.
25. PENGHARGAAN PENULIS TERBAIK MAJALAH MEDIA PROV JATIM 2007/2008
26. PENGHARGAAN 10 BESAR LOMBA GURU KREATIF E-JAWA TAHUN 2008
27. PENGHARGAAN FINALIS LOMBA GURU KREATIF E-JAWA TAHUN 2008
28. NOMINASI TINGKAT
PROV.JATIM PENULIS OBYEK/PERIS SEJARAH JATIM 2008
29. UNGGULAN LOMBA GURU IDEAL JAWA TIMUR TAHUN 2009
30. UNGGULAN LOMBA PENULIS ARTIKEL UNTUKMU GURUKU JAWAPOS 2009
31. NOMINASI TINGKAT NASIONAL LOMBA KREASI & INOVASI MEDIA
PEMBELAJ 2009
32. FINALIS (LKIG) LOMBA KREATIFITAS ILMIAH GURU LIPI TAHUN 2009
33. PENGHARGAAN SAYEMBARA PENULISAN NAS BACAAN SISWA SD KL RENDAH
2009
34. SAYEMBARA PENULISAN NASKAH BUKU PENGAYAAN 2009
35. PENGHARGAAN INTERNASIONAL: COMPETITION AND EXHIBITION OF
TEACHERS’ INNOVATIVE CRAFT PRODUCTS 2010
NASKAH FINALIS SIMPOSIUM 2016
MENCIPTAKAN SEKOLAH SEJUK DAN RINDANG DENGAN PROGRAM POHON ASUH SISTEM “MBAON” DI SMPN 2 PITU KABUPATEN NGAWI
OLEH : ARIS RIYADI, S.Pd., M.Pd.
Kepala Sekolah di SMPN 2 Pitu Kab. Ngawi Jawa Timur.
A. Latar Belakang
Setiap tahun orang tua wali murid berbondong bodong ke
sekolah untuk mencari sekolah yang terbaik bagi putra putrinya. Ketika mereka
sudah memilih, maka sejuta impian dan harapan mereka percayakan pada sekolah
itu. Begitu anaknya sudah masuk, maka segala bentuk tata aturan dan norma di
percayakan pada sekolah tersebut. Besar harapan mereka terhadap sekolah yang
telah mereka percayai. Tujuannya satu, agar anaknya mampu menjadi orang yang
sukses dan bermanfaat bagi agama, orang tua, masyarakat, bangsa dan negara.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban dari harapan harapan orang
tua dan masa depan bangsa, maka sudah selakyaknya satuan pendidikan harus mampu
menjawab tantangan tersebut dengan mewujudkan integritas sekolah yang
mengedepankan nilai-nilai luhur sekolah berwawasan lingkungan hidup. Integritas
dalam hal ini adalah suatu konsep yang menunjuk konsistensi antara tindakan
dengan nilai dan prinsip. Konsistensi sekolah dalam mengelola sekolah tentang
lingkungan hidup perlu di munculkan dengan sikap konsisten mewujudkan sekolah
yang rindang, hijau dan berwawasan lingkungan. Jika sekolah mempu menjadi paru
paru kecil di daerahnya, maka jika SMP saja di seluruh Indonesia terdapat
26.277 ribu sekolah, dapat dibayangkan bahwa di permukaan pulau di Indonesia
akan tersebar titik-titik paru-paru yang membentang dari Sabang sampai merauke
selain kawasan hutan yang semakin menipis keberadaannya. (kemenkopmk.go.id).
Maka sangat penting artinya jika sekolah berusaha terus dalam membangun satuan
pendidikan berbasiskan nilai nilai luhur dengan mengedepankan pelestarian
lingkungan sekolah yang nyaman sejuk dan rindang. Usaha tersebut dapat
dilakukan secara estafet, intensif dan berkesinambungan. Sekolah merupakan
tempat untuk belajar dan sekaligus menjadi rumah kedua. Untuk itu sudah
selayaknya sekolah di setting menjadi sesuatu yang menarik sehingga peserta
didik merasa betah dan senang di sekolah tersebut. Maka pembelajaran di sekolah
akan menjadi pembelajaran yang menyenagkan atau
joyfull learning (arisriyadi.blogspot,com).
Konsep Sekolah menyenangkan ini telah di gagas jauh
sebelum negara ini berdiri oleh tokoh pendidikan kita Ki Hajar Dewantara yang
terkenal dengan sekolah Taman Siswa. Konsep sekolah taman siswa adalah berupaya
menjadikan sekolah sebagai taman bagi siswa. Taman untuk bermain maupun taman
untuk belajar. Jadi menurut Ki Hajar Dewantara, sekolah merupakan tempat untuk
belajar, berinteraksi dalam suasana nyaman tenang bagaikan dalam sebuah taman
yang indah sejuk dan rindang (Kemdikbud, 2015).
Maka sekolah yang rindang menjadi solusi untuk
menciaptakan sekolah menyenangkan. Peserta didik akan menjadi nyaman dan betah
dalam mengikuti pembelajaran di sekolahnya. Program Pohon Asuh merupakan konsep
yang cocock untuk mewujudkan semua ini. Dengan sistem penanaman pohon yang di
asuh secara estafet oleh siswa sendiri, mulai dari pembibitan, penanaman,
pemupukan, perawatan/pemeliharaan maka pohon akan tumbuh menjadi pohon yang
besar, layaknya anak pohon yang diasuh orang tuanya sendiri. Karena kawasan di
sekolah kami adalah dekat kawasan hutan maka Program Pohon Asuh ini di
sinergikan dengan sistem “mbaon” yang
telah ada di penduduk sekitar sekolah tersebut.
B.
Perumusan Masalah
Program penanaman pohon banyak dilakukan oleh sekolah
sekolah maupun instansi dengan menanam seribu atau sejuta pohon, namun dilapangan mengalami banyak hambatan dan kendala. Seiring
perjalanan waktu, tidak banyak pohon yang mampu bertahan hidup. Penyebabnya
banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Internal dari kualitas bibit itu
sendiri, teknik penanaman, maupun pemilihan waktu tanam. Sedangkan dari
ekternal bisa karena pemeliharaan, kondisi lingkungan dan seterusnya. Ada satu masalah
yang paling mencolok dalam program penanaman pohon adalah bagaimana tindak
lanjut dalam pemeliharaan pohon tersebut dan siapa yang bertanggugjawab. Pola
asuh pohon pasca penanaman menjadi masalah utama dalam program penanaman pohon
tersebut. Sistem polah asuh terhadap pohon hampir tidak ada. Tongkat estafet
pemeliharaan terputus. Sistem inilah yang perlu di rubah dengan sistem baru
yang berkelanjutan, estafet dan bertanggungjawab terhadap penanaman pohon guna pelestarian
lingkungan hidup. Kondisi lingkungan sekolah juga sangat berpengaruh dalam
program penanaman pohon. Untuk itulah di butuhkan sebuah program penanaman
pohon yang bersinergi antara sekolah dengan lingkungan sekitar, agar program
tersebut dapat berjalan dengan lanjar dan berkelanjutan.
C.
Pembahasan dan Solusi
Manusia dan lingkungan hidup merupakan hubungan timbal
balik yang tak terpisahkan. Manusia sangat tergantung dari lingkungan yang
menjadi sumber daya alam untuk dimanfaatkan. Namun sumber daya alam sangatlah
terbatas sehingga manusia perlu memperhatikan kelestarian
lingkungan agar fungsi-fungsi lingkungan dapat berjalan sehingga dapat
mendukung penghidupan berkelanjutan.
Dalam rangka menyadarkan manusia terhadap kelstarian lingkungannya perlu adanya
usaha untuk pembinaan arahan dalam upaya menjadikan seseorang mempunyai jiwa
mencintai lingkungan.
Sekolah merupakan salah satu ujung tombak untuk mencapai fungsi membentuk manusia yang peduli lingkungan. Sekolah juga hendaknya mampu menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga di kemudian hari warga sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan. Sekolah diharapkan mempunyai integritas sekolah yang mengedepankan nilai-nilai luhur sekolah berwawasan lingkungan hidup. Nilai nilai yang tertanam di dalam semua warga sekolah akan kepedulian lingkungan perlu di kembangkan secara bersama dengan komitmen bersama.
Berangkat
dari permasalahan lingkungan yang terjadi dan sekolah adalah wadah yang tepat
untuk membangun karakter peduli lingkungan dalam diri peserta didik maka
sekolah harus mampu memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik dan
memberikan motivasi yang positif, dalam diri peserta didik agar kelestarian
lingkungan hidup tetap berkelanjutan.
Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut maka di sekolah kami, SMP Negeri 2
Pitu Kabupaten Ngawi, yang berlokasi di Desa Karanggeneng, Kecamatan Pitu,
Kabuapten Ngawi, Jawa Timur (30 km utara kota ngawi, perbatasan dengan Blora,
Jawa Tengah), telah melakukan usaha dalam upaya pelestarian lingkungan hidup di
sekitar sekolah. Usaha tersebut di kenal dengan nama Program Pohon Asuh dengan
sistem “Mbaon.”
Konsep dari Program Pohon Asuh di sekolah ini adalah penanaman
pohon oleh seluruh warga sekolah dengan sistem mengasuh pohon mulai dari
pembibitan, penanaman, pemeliharaan sehinga pohon mampu tumbuh menjadi pohon
yang besar dan kuat. Penanaman Pohon Asuh ini dilakukan di dalam sekolah maupun
di luar sekolah/sekitar sekolah. Karena sekolah kami berlokasi di tepi kawasan
hutan Kecamatan Pitu kabupaten Ngawi, maka Program Pohon Asuh ini kami
sinergikan denga sistem “Mbaon” yang
telah lama di kenal masyarakat di daerah sekitar sekolah. “Mbaon” berasal dari kata bau
yang artinya bahu orang sebagai tumpuan kerja. (wawancara dengan P.Darmun, tokoh
masyarakat). Sistem “Mbaon” adalah
sistem penggarapan tanah oleh masayarakat sekitar hutan, dengan memanfaatkan
lahan kosong di hutan, namun tetap memelihara pohon jati sebagai pohon induk
hingga pohon tersebut tumbuh mejadi besar. Jadi masayarakat sekitar biasa
menanam jagung, kedelai, ketela dan lain lain di kawasan hutan, dengan
memelihara pohon jati yang ada di tanah garapannya. Pohon jati juga menjadi
tanggung jawab penggarap jika terjadi mati atau rusak. Hasil panen palawija
penggarap menjadi hak penggarap, sedangkan perhutani sebagai pemilik tanah dan
pohon jati hanya bertugas memantau kan kelangsungan hidup pohon jati tersebut.
Dari sistem ini sekolah juga menggambil peran, dengan
menggarap tanah di sekitar hutan sekaligus warga sekolah mempunyai pohon asuh
atas tanaman jati di huatan sekitar sekolah tersebut. Program ini dilakukan
secara terencana, terukur dan berkesinambungan. Tujuan dari Program Pohon Asuh
ini adalah agar sekolah menjadi tempat belajar yang sejuk dan rindang, sehingga
peserta didik dapat belajar di sekolah dengan nyaman dan tenang. Fungsi lain
adalah untuk mencegah tanah longsur dan banjir yang sering terjadi di kawasan
sekolah kami. Adapun tahapan konsep Program Pohon Asuh tersebut adalah sebagai
berikut:
1.
Persiapan
Untuk mewujudkan program Pohon Asuh sekolah perlu segera
melakukan persiapan yang tepat terencana terintegrasi dan berkesinambungan.
Persiapan ini di laksanakan agar mempermudah dan mempercepat dalam perencanaan
dan pelaksanaannya sehingga akan mempermudah terwujudnya sekolah yang ideal
sesuai perencanaan. Adapun tahap persiapan meliputi
a.
Kepala sekolah,
komite sekolah, orang tua/wali murid, siswa, Perhutani dan seluruh komponen
warga sekolah berkomitmen untuk mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan
dengan menuangkan program pohon asuh dalan rencana kegiatan sekolah (RPS).
b.
Kepala sekolah
bersama komite sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan serta siswa membentuk
tim pengembang Pohon Asuh dan mensosialisasikan pentingnya program Pohon Asuh
Sekolah ke semua warga sekolah dan Perhutani.
c.
Tim ini bertugas
mengkoordinasikan berbagai upaya pengembangan menuju sekolah yang sejuk dan
rindang yang meliputi sosialiasi pentingnya sekolah yang sejuk rindang,
menyusun dan melaksanakan rencana serta mamantau proses pengembangan dan
evaluasi.
d.
Tim Pengembang
Pohon Asuh mengidentifikasi semua potensi, kapasitas, kerentanan dan ancaman
sekolah untuk mengembangkan sekolah sejuk dan rindang.
2.
Perencanaan
Tim pengembang Pohon Asuh menyusun rencana aksi tahunan
untuk mewujudkan sekolah sejuk dan rindang yang terintegrasi ke dalam
kebijakan, program dan kegiatan yang sudah ada seperti KTSP, RKAS dan RKS
sebagai komponen penting dalam perencanaan pengembangan sekolah sejuk dan
rindang. Dalam program sekolah yang tertuang di KTSP, telah di agendakan jadwal
setiap jumat ada jam khusus untuk perawatan Pohon Asuh dengan terpola da
terprogram secara berkesinambungan. Dalam RKAS dan RKS ada rencana program dan
rencana anggaran untuk mendukung terleksananya program Pohon Asuh sekolah.
Dalam perencanaan ada kartu kesepakatan yang harus di taati oleh semua warga
sekolah tentang aturan dalam pelaksanaan program Pohon Asuh Sekolah tersebut. Untuk
penanaman di kawasan hutan di rencanakan secara bersama dengan pihak Perhutani,
tentang lahan lahan yang akan di gunakan. Juga pemantauan secara bersama
anatara sekolah dengan Perhutani.
Perjanjian kerja sama juga di lakukan antara sekolah dan Perhutani yang
menyangkut pembibitan, pemeliharaan dan hak milik pohon.
3.
Pelaksanaan
Tim pengembang Pohon Asuh melaksanakan rencana aksi
tahunan dengan mengoptimalkan semua sumber daya sekolah, masyarakat sekitar dan
orang tua wali murid.
a.
Pembibitan
Bibit pohon asuh di peroleh dari Perhutani dan Kecamatan Pitu
Kabupaten Ngawi, yang memang setiap tahun memberikan bantuan terhadap sekolah
sekolah yang akan menanam pohon di sekitar sekolah tersebut. Untuk pohon yang
di tanam di sekolah menjadi hak milik sekolah, sedangkan untuk pohon yang di
tanam di hutan menjadi hak milik Perhutani, sedangkan sekolah hanya merawat dan
memanfaatkan lahan di sekitar hutan yang di garap sekolah.
b.
Penanaman
Sebelum penanaman dilakukan perlu adanya penataan lokasi
atau titik titik tempat penanaman pohon dan juga tempat tambal sulam jika
kedapatan pohon yang mati. Lokasi meliputi kawasan di dalam lingkungan sekolah
maupun kawasan di tengah hutan/di tepi jalan menuju hutan. Adapun gambar
penentuan lokasi sebagai berikut:
Setelah pemetaan dilakukan maka penanaman di laksanakan
dengan serempak. Penanaman perlu di buat lobang tanaman dan tanah kompos agar
tanaman mampu berkembang dengan baik. Penanaman juga di ikuti dengan pemberian
pengaman berupa bambu guna melindungi tanaman dari gangguan luar misalnya
dimakan ternak atau di potong penggembala. Penanaman juga di lakukan di jalan
jalan menuju sekolah dan jalan desa. Bahkan karena lokasi sekolah dekat hutan
maka warga sekolah juga menanam di dalam hutan milik perhutani dengan mengasuh
pohon tersebut. Sistem ini di sebut sistem “Mbaon” di mana warga sekolah
mengasuh pohon jati dan memanfaatkan areal sekitar pohon jati untuk bercocok
tanam. Misalnya tumpang sari jagung, ketela dan empon empon atau apotik hidup.
Hasilnya di manfaatkan untuk sekolah.
Setelah penanaman dilakukan, di beri tanda label pada
masing masing pohon dengan identitas nama pohon, nama penanam, kelas. Dari
identitas tersebut dapat diketahui bahwa siapa pemilik pohon asuh tersebut dan
bagaimana perkembangan pohon tersebut merupakan tanggungjawab atau asuhan dari
pemilik nama pohon tersebut.
c.
Pemeliharaan
1).
Pengolahan tanah
Pengolahan
tanah yang dimaksud adalah penggemburan lahan disekitar pohon dengan alat
cangkul agar tanah senantiasa gembur dan subur.
2).
Pemupukan
Pemupukan di
lakukan secara terjadwal dan berkelanjutan. Pupuk yang di anjurkan adalah pupuk
kandang dengan takaran yang proporsional.
3).
Penyiangan
Penyiangan
adalah membersihkan gulma atau tumbuhan lain yang mengganggu pohon tersebut. (Gembong
Tjitrosopomo, 2014) Yang paling banyak mengganggu adalah rumput. Penyiangan
rumput dilakukan secara rutin setiap hari jumat, karena pada setiap hari Jumat
diadakan program Jumat bersih.
4).
Pelaporan
Setiap warga
sekolah mempunyai pohon yang diasuh secara mandiri. Setiap warga sekolah
melaporkan perkembangan pertumbuhan pohon pada tim pengembang Pohon Asuh secara
berkala. Tim pengembang Pohon Asuh juga mengevaluasi secara berkala
perkembangan pohon tersebut. Jika ada kendala kendala yang terjadi maka tim
pengembang akan meberikan solusi. Kendala yang sering terjadi adalah pohon mati
atau rusak. Maka perlu adanya penggantian pohon atau perbaikan pohon.
4.
Pemantauan, Pelaporan dan Evaluasi
Tim pengembang Pohon Asuh melaksanakan pemantauan dan
evaluasi atas rencana gerakan aksi Pohon Asuh sekolah, selanjutnya melakukan
pelaporan hasil evaluasi dalam rapat kerja yang dihadiri oleh tim pengembang
Pohon Asuh dan warga sekolah.
5.
Pelepasan, Sertifikasi dan Penghargaan
Tim pengembang Pohon Asuh memberikan serah terima kepada
warga sekolah yang keluar dan masuk secara bersamaan untuk siswa yang masuk dan
lulus dan secara individu untuk guru/karyawan serta siswa yang mutasi ke
sekolah lain. Setiap warga sekolah akan mendapatkan piagam/sertifik telah
mengasuh pohon tersebut sesuai lamanya mereka mengasuh pohon itu. Sertifikat
ini di tandatangani oleh kepala sekolah sebagai bukti bahwa mereka telah
berkontribusi merawat dan mengasuh pohon di lingkungan sekolah sekaligus
sebagai rasa ucapan terimakasih kepada warga sekolah yang telah ikut mendukung
pelestarian lingkungan melalui program Pohon Asuh sekolah. Dari hasil program
Pohon Asuh Sekolah, SMP Negeri 2 Pitu mendapatkan penghargaan menjadi juara 2
Pohon Asuh Tingkat Kabupaten Ngawi. Dari penghargaan ini semakin memotivasi
warga sekolah untuk meningkatkan program ini dari tahun sebelumnya.
D.
Kesimpulan dan Harapan Penulis
Gerakan penanaman pohon saat ini sedang gencar gencarnya
dilakukan. Hal ini mengingat semakin sempitnya ruang hijau tanaman yang
tergesar oleh perluasan bangunan dan kawasan perindustrian. Sekolah sebagai
tempat belajar perlu mengambil bagian akan pentingnya kawasan hijau berwawasan
lingkungan. SMP Negeri 2 Pitu, Kabupaten Ngawi Jawa Timur telah melaksanakan
Program Pohon Asuh dengan sistem “mbaon”.
Program ini sebagai bentuk integritas sekolah dalam memperhatikan sekaligus
mengupayakan kawasan sejuk dan rindang di sekolah dan lingkungan sekitarnya.
Prinsip dari Program Pohon Asuh ini adalah penanaman
pohon oleh seluruh warga sekolah dengan sistem mengasuh pohon mulai dari
pembibitan, penanaman, pemeliharaan sehinga pohon mampu tumbuh menjadi pohon
yang besar dan kuat. Penanaman Pohon Asuh ini dilakukan di dalam sekolah maupun
di luar sekolah/ di kawasan hutan dekat sekolah. Sedangkan sistem “Mbaon” adalah sistem penggarapan tanah
oleh warga sekolah, dengan memanfaatkan lahan kosong di hutan, namun tetap
memelihara pohon jati sebagai pohon induk hingga pohon tersebut tumbuh mejadi
besar. Tujuan dari gerakan pohon asuh ini adalah untuk mewujudkan sekolah yang
sejuk dan rindang. Dengan suasana sekolah yang sejuk dan rindang di harapkan
sekolah akan menjadi tempat yang nyaman untuk pembelajaran. Program Pohon Asuh ini
juga bermanfaat unt mencegah tanah longsor dan banjir.
Dengan adanya program Pohon Asuh sekolah ini jika bisa
dilaksanakan oleh semua sekolah di seluruh Indonesia maka harapan kedepan akan
muncul paru paru kecil di setiap desa atau kecamatan masing-amasing yang mampu berkontribusi
kerindangan di lingkungannya baik di perkotaan maupun di pedesaan. Jika ini
berjalan bukan tidak mungkin sekolah sekolah di Indonesia memberi warna hijau
di pulau-pulau mulai dari Sabang samapai Merauke, selain kawasan hutan
Indonesia.
JUARA 1 GURU BERANI MENGINSPIRASI JENJANG SMP ERLANGGA 2015
PENGGUNAAN MEDIA WAYANG TOKOH SEJARAH
A.PENDAHULUANTujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan. (Undang-undang No 20 Tahun 2013). Dalam amanat kurikulum juga ditekankan akan pentingnya pembentukan karakter bangsa. Salah satunya adalah pentingnya semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Peserta didik diharapkan mempunyai semangat nasionalisme yang tinggi terhadap bangsa ini. Selalu berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya. Apalagi di zaman yang begitu maju seperti ini, banyak generasi penerus yang pandai namun kurang mempunyai semangat nasionalisme. Akibatnya banyak para pemuda kita berhasil menjuarai kompetisi ilmiah di tingkat dunia, namun dalam penerapan ilmu lebih memilih ke luar negeri untuk mengejar materi semata. Disinilah rasa nasionalisme sangat di butuhkan pada setiap individu bangsa.
Sebagai ujung tombak penanaman nasionalisme itulah dibutuhkan seorang guru sebagai pendidik bangsa. Guru sejarah mengambil peran yang sangat signifikan terhadap nilai-nilia karakter semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Maka guru sejarah diharapkan mampu menterjemahkan setiap peristiwa sejarah kedalam nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air pada kondisi zaman sekarang ini. Pemahaman akan peristiwa masa lalu akan sangat penting artinya jika seorang Guru sejarah mampu menterjemahkan akan makna yang terkandung didalam peristiwa tersebut. Dengan peristiwa sejarah tersebut maka diharapkan siswa sebagai generasi penerus, mendapatkan pelajaran yang berharga tentang nilai-nilai semangat kebangsaan dan mencintai cinta tanah air ini. Mengingat pentingnya setiap peristiwa sejarah, maka diharapkan Guru sejarah mampu memberikan pemahaman pada setiap peristiwa sejarah dengan menarik dan memberikan nilai-nilai nasionalisme bangsa. Selanjutnya siswa juga mampu menerimanya dengan mudah dan menyenangkan serta mengambil hikmahnya. Maka sudah selayaknya Guru sejarah untuk berusaha dalam mengembangkan berbagai strategi dan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
B. TANTANGAN PEMBELAJARAN SEJARAH
1. MATA PELAJARAN
Mata pelajaran dalam penerapan media ini adalah Mata pelajaran IPS khususnya konsep-konsep sejarah yang ada di jenjang SMP/Sederajat. Adapun Kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum 2006 (KTSP).
2. KOPETENSI DASAR
Standar Kompetensi dalam penerapan media ini adalah 2.Memahami Usaha Mempertahankan Kemerdekaan. Sedangkan Kompetensi Dasarnya adalah 2.1.Mengidentifikasi Usaha Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Indikatornya adalah 2.1.1.Menjelaskan Perjuangan Bersenjata pada Peristiwa Pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya. Materi tersebut ada di jenjang SMP/Sederajat Kelas IX pada semester Ganjil.
3. BENTUK TANTANGAN
Pembentukan karakter bangsa terutama pada pembentukan semangat nasionalisme adalah hal yang mendesak yang harus dilakukan pada generasi muda saat ini. Lunturnya semangat nasionalisme, semakin terlihat ketika para siswa zaman sekarang ini kurang mengahargai dan mengambil contoh nilai nilai yang terkandung di dalam semangat kepahlawanan seperti, rela berkorban, tanpa pamrih, bekerja keras, kedisiplinan, sopan santun terhadap orang tua dan guru. Salah satu faktor penyebabnya adalah Guru kurang berinovasi dalam memberikan materi pelajaran sejarah. Sejarah hanya diberikan dalam bentuk ceramah dan hafalan belaka. Sejarah tidak digali sampai makna yang terkandung didalamnya. Akibatnya di mata siswa, pembelajaran sejarah menjadi “membosankan”. Tantangan terbesar bagi guru guru sejarah saat ini adalah bagaimana pembelajaran sejarah mampu diminati siswa, sehingga siswa dapat mengikuti pelajaran dengan tertarik dan menyenangkan.
C. TINDAKAN UNTUK MENGATASI TANTANGAN
1.KONSEP UNTUK MENGATASI TANTANGAN
Untuk membangkitkan minat belajar siswa maka saya ciptakan media yang menarik dan menyenagkan yaitu media "Wayang Tokoh Sejarah ". Saya mencoba mendesain bagaimana pembelajaran sejarah mampu menumbuhkan semangat nasionalisme, mampu bekerjasama dan berkomunikasi aktif dan kreatif dalam menceritakan kembali peristiwa sejarah dengan penuh penghayatan. Dengan memanfaatkan sentuhan seni wayang sejarah, dan alur kronologis peristiwa sejarah, maka pembelajaran sejarah akan lebih menarik dan menyenangkan "Joyfull learning".
2. JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
Jenis media pembelajaran yang saya gunakan berupa media audio visual yang merupakan gabungan antara kreatifitas seni wayang dan pembelajaran sejarah. Karena wayang yang saya gunakan adalah para tokoh tokoh sejarah perjuangan bangsa dalam usaha kemerdekaan maka media ini saya beri nama media “Wayang Tokoh Sejarah ". Media Wayang Tokoh Sejarah adalah alat bantu pembelajaran berupa wayang tokoh tokoh perjuangan yang digunakan untuk menjelaskan kronologis peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Wayang tersebut didesain khusus untuk pembelajaran, dimana guru sebagai pendalang dan siswa merangkum isi dari peristiwa yang telah disampaikan guru. Selanjutnya siswa mempresentasikan hasil rangkumannya dengan menceritakan kembali peristiwa sejarah menggunakan Media Wayang Tokoh Sejarah.
3. BAHAN DAN CARA PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN
a. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
Alat dan bahan yang perlu dipersiapkan dalam pembuatan media ini antara lain:
1) Alat
Ø Gunting / Cutter
Ø Penggaris, Pensil/Bolpoint, Penghapus
Ø Tatah, Palu
Ø Lakban
Ø Lilin / Lampu
Ø Puas
Ø jarum, Benang
2) Bahan
Ø Cotton Bat
Ø Lem, Gabus
Ø Gambar-gambar Pahlawan
Ø Cat, Tinner
Ø Bambu/Garan
b. CARA PEMBUATAN MEDIA WAYANG TOKOH SEJARAH
Media Wayang Tokoh Sejarah dapat dirancang oleh guru jauh sebelum pelaksanaan pembelajaran. Adapun langkah-langkah pembuatan media dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Pembuatan Kronologis Peristiwa Sejarah.
Pembuatan Media Wayang Tokoh Sejarah diawali dengan guru menentukan materi pokok yang akan digunakan dalam pembelajaran. Selanjutnya guru membuat narasi atau dialog pada kronologis peristiwa yang terjadi. Agar terjadi kolaborasi dengan siswa, ada beberapa dialog yang ditugaskan pada siswa untuk mengucapkannnya. Misalnya yel-yel Bung Tomo, Ultimatum Mansregh dalam bahasa Inggris dan seterusnya. Dialog dan narasi ini di buat sesederhana mungkin agar siswa benar-benar memahami peristiwa sejarah perjuangan bangsa dengan mudah dan menyenangkan.
2) Mendata Tokoh Wayang Sejarah dan Jenis Properti yang diperlukan
Dari narasi dan dialog wayang tersebut dapat dibuat tokoh-tokoh wayang siapa saja yang harus dibuat. Misalnya pada peristiwa proklamasi maka tokoh wayang yang perlu dibuat adalah Sukarno, Hatta, Ahmad Subardjo, Rajiman Widyodiningrat, Muwardi, Sukarni, Syahrir, Sayuti Melik, Suhut, Latif Hendraningrat, Subeno, BM Dyah dan seterusnya. Untuk peristiwa 10 November di Surabaya (Hari Pahlawan) maka tokoh yang perlu dibuat adalah Bung Tomo, Sukarno, Malaby, Mansregh, Arek-arek Surabaya dan seterusnya. Untuk peristiwa penyebaran Agama Islam di Jawa oleh Wali Sanga, maka tentu saja sembilan Wali Sanga tersebut.
Agar pagelaran wayang tampak hidup, maka perlu di buat properti yang melengkapi wayang tersebut. Misalnya untuk peristiwa proklamasi dibutuhkan background/pakeliran rumah Sukarno, bendera merah putih, sebuah tiang bendera lengkap dengan talinya untuk pengibaran bendera saat proklamasi dikumandangkan serta kotak wayang. Tentunya semua dibuat dengan ukuran mini. Sedangkan pada peristiwa 10 November diperlukan properti berupa background/pakeliran jembatan merah, pesawat terbang Musquito, Tank Meriam, Kapal Selam Sussex, sejumlah tentara Sekutu bersenjata lengkap, sejumlah arek-arek Surabaya bersenjatakan sederhana serta kotak wayang. Sedangkan untuk mengiringi pagelaran wayang tersebut di perlukan alunan musik-musik perjuangan.
3) Pembuatan Wajah Wayang Tokoh Sejarah Pembuatan Wayang Perjuangan menyerupai pembuatan wayang kulit pada umumnya, akan tetapi dibuat yang lebih sederhana. Wayang dibuat dari kertas duplex/karton dengan wajah wayang yang kita ubah dengan wajah para tokoh-tokoh perjuangan yang berperan pada peristiwa tersebut. Untuk mendekatkan wajah para tokoh wayang dengan wajah aslinya maka dapat mengambil gambar atau foto pahlawan dari buku, poster-poster, internet atau menggambar langsung. Gambar tersebut kita ambil/gunting dan kita tempelkan pada kertas duplex sebagai gambar wajah wayang. Jika ukuran gambar tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan maka dapat pula dibesarkan atau dikecilkan dengan cara discanner atau di foto copy dan di edit dengan program Photoshop CS2
4) Pembuatan Badan Kaki dan Tangan Wayang Tokoh Sejarah Pembuatan badan, kaki, dan tangan wayang sejarah adalah kreativitas sendiri seperti pembuatan wayang kulit pada umumnya (di cat dengan warna baju dan celana yang sesuai dgn tokoh wayang). Untuk menyambungkan antar lengan wayang digunakan cotton-bat yang dibakar. Agar wayang dapat berdiri di atas meja, wayang perlu diberi penyangga atau “garan” dari bambu dan ditancapkan di atas kotak gabus. Fungsi kotak tersebut selain sebagai tempat berdirinya wayang juga sekaligus berfungsi untuk menyimpan wayang (kotak wayang.
5) Pembuatan Properti Pendukung Wayang Tokoh Sejarah
Sebagai akhir dari pembuatan wayang adalah propertI/pernak-pernik yang melatar belakangi kejadian sejarah pada saat itu. Misalnya di belakang wayang perjuangan diberi gambar situasi pertempuran sebagai kelir atau backgroundnya, bentuk miniatur meja, jembatan merah, bendera, tiang bendera lengkap dengan tali untuk mengibarkan bendera dan seterusnya. Jika pembuatan wajah, badan, tangan, kaki, serta properti wayang telah selesai, maka wayang perjuangan siap dipentaskan. Proses pembuatan wayang memang cukup panjang, dan memerlukan kreatifitas, teknologi dan jiwa seni yang tinggi bagi si pembuat, namun hasilnya sangat sebanding dengan apa yang diperoleh, karena menghasilkan media yang cukup unik dan menyenangkan bagi siswa. Bahkan jika guru menerapkan media ini, merupakan pengalaman menarik bagi siswa yang tidak pernah akan terlupakan selama hidupnya.
4. BENTUK DAN FOTO MEDIA WAYANG TOKOH SEJARAH
Media Wayang Tokoh Sejarah yang telah saya ciptakan ada beberapa seri. Diantaranya adalah seri cerita Proklamasi, seri Peristiwa 10 November di Surabaya (Hari Pahlawan), Seri Wali Sanga. Adapun seri-seri yang lain masih dalam proses pengembangan secara terus menerus. Adapun masing-masing seri memiliki beberapa tokoh yang berperan pada masa itu. Misalnya pada peristiwa Proklamasi ada wayang tokoh Sukarno, Hatta, sedangkan pada seri peristiwa 10 November ada tokoh Bung Tomo dan seterusnya. Seluruh wayang tokoh sejarah yang telah saya buat berjumlah 100 wayang dengan masing-masing karakter tokoh yang berbeda-beda. Media Wayang Tokoh Sejarah ini, merupakan asli hasil karya kreasi kami sendiri yang masih terus kami kembangkan dan kami perjuangkan di berbagai kesempatan untuk mencari hak patennya. Dengan harapan agar karya ini menjadi budaya pendidikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada umumnya dan dikalangan siswa pada khususnya sehingga tidak lagi diambil hak ciptanya oleh bangsa lain.
5. CARA PENGGUNAAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN
Untuk memperlancar penggunaan Media Wayang Tokoh Sejarah agar berjalan dengan lancar, maka dapat dibagi menjadi beberapa kegiatan antara lain:
1. Persiapan Pembelajaran.
Persiapan meliputi kegiatan menyiapkan persiapan sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai, mulai dari penyediaan tokoh-tokoh wayang perjuangan, setting tempat/pakeliran, tape recorder sebagai iringan musik, warless atau mic serta properti lain yang mendukung kelancaran pertunjukkan wayang. Persiapan ini sangat diperlukan karena jika tidak ada persiapan yang matang, bisa-bisa waktu pembelajaran akan habis tersita hanya untuk persiapannya.
2. Penjelasan Skenario Pembelajaran.
Untuk menerapkan media ini, maka siswa perlu mendapatkan penjelasan secara jelas tentang skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan, agar proses pembelajaran sejarah dapat berjalan dengan lancar. Penjelasan skenario pembelajaran dilakukan guru pada saat kegiatan pendahuluan pembelajaran. Guru menjelaskan penggunaan Wayang Perjuangan mulai dari perkenalan tiap-tiap wayang tokoh perjuangan, keterlibatan siswa dalam pagelaran wayang, langkah-langkah kegiatan siswa dalam lembar kerja, pembuatan resume atau rangkuman, sampai dengan bagaimanakah aturan main siswa presentasi di depan kelas dengan menggunakan Media Wayang Tokoh Sejarah.
3. Pementasan Wayang Tokoh Sejarah.
Tahap pementasan atau pagelaran adalah seorang guru menampilakan tokoh-tokoh sejarah yang telah dibuat dengan dialog-dilaog yang menarik sebagai pendalang. Dengan demikian diharapkan siswa mampu memahami kronologis peristiwa sejarah, tanpa harus menghafal bacaan secara verbal dan membosankan. Dalam pementasan wayang sejarah ini, guru juga melibatkan siswa dalam menjelaskan peristiwa sejarah. Misalnya, pada peristiwa 10 November kobaran semangat dari Bung Tomo ditirukan oleh seluruh siswa dengan yel-yel “Allohu Akbar, merdeka merdeka. Bahkan pada saat mendalang, guru dapat berkolaborasi dengan siswa dengan cara menugaskan siswa untuk ikut mendalang dengan beberapa narasi yang telah dihafalkan oleh siswa ( contoh ultimatum Jenderal Mansregh dalam bahasa Inggris). Pengibaran sang Merah Putih oleh Suhud dan Lalif Hendraningrat, juga dapat dilakukan oleh dua orang siswa dan seluruh kelas mengiringinya dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama.
4. Resume atau Rangkuman Kronologis Peristiwa.
Ketika guru mendalang, siswa membuat catatan kecil dari peristiwa sejarah perjuangan. Siswa dibagikan lembar kerja dan dijelaskan tugas masing-masing kelompok. Dengan mengacu pada berbagai referensi, siswa mulai berdiskusi dan membuat resume/rangkuman. Sedangkan guru membimbing agar dapat memberikan kesempatan berkreasi dan berimajinasi dengan gaya bahasanya sendiri tentang alur kronologis peristiwa sejarah.
5. Presentasi Siswa. Ringkasan yang telah di buat kelompok, selanjutnya kelompok siswa tersebut diharuskan menyampaikan kembali peristiwa sejarah perjuangan dihadapan teman-temannya, dengan Media Wayang Tokoh Sejarah. Masing-masing kelompok membagi tugas agar presentasi berjalan dengan lancar.
6. CARA MENGEVALUASI HASIL BELAJAR
Untuk mengevaluasi hasil belajar dari penggunaan media ini, diadakan penilaian baik dalam bentuk kognitif, afektif maupun psikomotorik. Evaluasi tersebut dalam bentuk ulangan harian, pengamatan, angket dan polling dari siswa untuk menilai teman kelompoknya dalam keaktifan presentasi. Dari ke 4 instrumen tersebut dapat dilihat sejauh mana perkembangan hasil belajar siswa dengan menggunakan media Wayang Tokoh Sejarah. Dari hasil ujicoba yang telah saya lakukan di SMPN 2 Pitu, media ini benar benar membangkitkan minat belajar siswa dan hasil belajar siswa juga sangat memuaskan baik dari segi cognitif, afektif maupun psikomotoriknya.
D.KESUKSESAN YANG DI PEROLEH DENGAN MEDIA
E. KESIMPULAN
Tantangan terbesar bagi guru guru sejarah saat ini adalah bagaimana pembelajaran sejarah mampu diminati siswa, sehingga siswa dapat mengikuti pelajaran dengan tertarik dan menyenangkan.
Melalui media baru yang saya ciptakan, yang diberi nama media "Wayang Tokoh Sejarah " Saya mencoba mendesain bagaimana pembelajaran sejarah mampu menumbuhkan semangat nasionalisme, mampu bekerjasama dan berkomunikasi aktif dan kreatif dalam menceritakan kembali peristiwa sejarah dengan penuh penghayatan. Dengan memanfaatkan sentuhan seni wayang sejarah, dan alur kronologis peristiwa sejarah, maka pembelajaran sejarah akan lebih menarik dan menyenangkan "Joyfull learning".
Media Wayang Tokoh Sejarah adalah alat bantu pembelajaran berupa wayang tokoh tokoh perjuangan yang digunakan untuk menjelaskan kronologis peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Wayang tersebut didesain khusus untuk pembelajaran, dimana guru sebagai pendalang dan siswa merangkum isi dari peristiwa yang telah disampaikan guru. Selanjutnya siswa mempresentasikan hasil rangkumannya dengan menceritakan kembali peristiwa sejarah menggunakan Media Wayang Tokoh Sejarah.
Hasil dari pembelajaran dengan menggunakan Media Wayang Tokoh Sejarah ini menjadikan pembelajaran sejarah lebih menyenangkan sehingga membangkitkan minat belajar siswa. Dengan bangkitnya minat belajar siswa, maka memacu peningkatan hasil belajar siswa.
Langganan:
Postingan (Atom)






